AKU SEBUAH HANDPHONE
Hari ini adalah hari aku berpindah tuan. Tuan yang lamaku menjualku pada sahabatnya. Mungkin dua mau menggantikanku dengan yang baru. Ya, zaman berubah cepat sehingga aku telah tidak zaman lagi saat ini.
Aku hanyalah sebuah handphone putih keluaran lama. Memangaku adalah jenis android tapi tipe lama. RAM ku hanya 1 GB, sangat kecil untuk zaman sekarang.
Aku dijual pada sahabat tuan lamaku seharga 4 ratus ribu Rupiah. Mungkin harga itu memang pantas untukku yang sudah ketinggalan zaman.
Setelah hari itu aku akan menjalani hari-hari baru bersama tuan baruku ini. Tuan baruku ternyata adalah pria yang telaten. Ia memperlakukanku dengan baik selayaknya ia baru saja membeli barang baru dari toko. Ia tak pernah mencaciku saat aku lag, dia hanya diam dan sabar menunggu. Dia juga tidak pernah membantingku saat sistemku eror, dia sangat sabar dan pengertian dengan kondisiku yang tidak baru lagi.
Tuanku adalah seorang yang pintar dan kreatif. Berbagai aplikasi yang bermanfaat dimasukan kedalamku. Mulai dari aplikasi menulis online, menggambar digital, editor foto dan video, dan tempat belajar online. Tapi, sayangnya RAM ku yang tak memunuhi memaksanya untuk menghapus berbagai aplikasi. Namun ia tidak mengeluh. Kadang aku merasa bersalah padanya. Aku tau sebenarnya uangnya telah cukup untuk menggantiku dengan yang baru. Tapi kenapa ia tidak melakukannya? Ternyata dia tidak menganggapku sebagai alat tapi sudah menganggapku sebagai sahabatnya sendiri, jadi dia tidak tega menggantiku.
Di dalam memoriku tersimpan banyak kenangan dari peristiwa-peristiwa penting yang dilaluinya bersama para sahabatnya. Dia sering melihat-lihat kenangan itu saat ada waktu senggang.
Hari-hari yang indah kujalani bersama tuanku. Aku membantunya dalam berkomunikasi dan menjalani hobinya. Ia sangat senang, rasanya ada kepuasan saat aku bisa melayaninya walaupun aku tau itu tidak maksimal.
Kurasa kondisiku semakin buruk tiap harinya. Tapi berusaha bertahan karena untuk saat ini tuanku begitu membutuhkanku untuk membantunya daring school karena sekolah ditutup pasca pandemi corona. Kucoba bertahan walau kondisiku semakin buruk.
Malam itu. Kondisiku sudah sangat buruk. Hingga akhirnya aku menyerah saat tuanku ingin membalas chat temannya.
Aku mulai meredup. Terakhir kudengar sayup-sayup tuanku yang bingung saat aku tiba-tiba mati. Selamat tinggal tuanku yang baik hati, maaf jika aku harus mati disaat yang tidak tepat. Aku berharap kamu mendapat pengganti yang lebih baik daripada diriku.
Komentar
Posting Komentar